Cerdas Mendunia!

Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Monday, 24 June 2019

Mengelola Emosi Buah Hati Menjadi Prestasi


Setiap anak menginginkan perhatian, utamanya dari orang tuanya. Sehingga tidak heran kadang anak melakukan apapun demi mendapatkan perhatian orang tuanya. Jika ia tidak diperhatikan dengan kegiatan baiknya, maka jangan heran ia membuat masalah hanya demi mendapatkan perhatian. Pada pembahasan kali ini akan kita uraikan 5 hal yang bisa dilakukan untuk bisa mengubah emosi buah hati menjadi prestasi.


  1.       Berikan pujian
Pujian merupakan apresiasi dan tanda perhatian kita pada anak. Jangan pelit pujian untuk anak kita. Pujian adalah hal murah yang bisa membangkitkan prestasi anak. Saat ini kebanyakan orang tua lebih memandang kesalahan yang dilakukan anak dari pada kebaikan yang dilakukannya. Sehingga kebaikan sebanyak apapun tidak mendapat pujian tapi kesalahan sekali saja akan mendapat cercaan. Ketika orang tua tidak memberikan pujian atas apa yang dilakukan akan membuat anak tidak dihargai, ia akan mengira berbuat baik atau tidak sama saja. Ini akan tidak baik bagi perkembangan anak.

Dalam memberikan pujian, pilihlah momen yang tepat, pujilah dengan proporsional dan tidak berlebihan serta buatlah pujian yang spesifik atas kebaikan apa yang dilakukan buah hati. Semakin spesifik pujian kita, maka buah hati kita akan paham mana perbuatan yang baik dan dilakukan dan mana yang tidak baik dan harus ditinggalkan.

  1. 2  Hindari kata jangan
Semakin dilarang semakin penasaran, itulah kebanyakan manusia. Selain itu pikiran manusia tidak bisa menerjemahkan kata – kata negative seperti jangan. Misalnya, jika saya minta anda untuk tidak membayangkan burung, pasti dipikiran anda malah terbayang burung. Demikian pula ketika kita meminta anak untuk jangan melakukan itu, maka perbuatan itu malah akan muncul di pikiran anak. Cara yang paling tepat adalah katakana apa yang Anda inginkan. Jika Anda ingin buah hati Anda tenang, maka katakan, “Kalau adek tenang dan belajar adek hebat deh!”, bukan sebaliknya, “Adek, jangan ramai saying!”. Untuk kalimat yang kedua ini pasti yang terbayang adalah kata ramai.

  1. 3.    Marah dengan cerdas
Apa itu marah cerdas? Yaitu marah yang tidak disertai emosi dan dilakukan pada situasi dan kondisi yang tepat. Sebaiknya jika kita belum bisa mengontrol emosi kita, lebih baik kita tidak marah ke anak karena hal ini bisa memberikan efek negative pula. Kita boleh marah pada anak jika anak melakukan kesalahan, tetapi marahlah yang sewajarnya dan berikan nasihat yang baik pada anak. Sehingga anak tahu mana perbuatan yang salah dan ia mau meninggalkan.

  1. 4.    Bandingkan dengan positif
Setiap orang pasti merasa sakit bila dibanding – bandingkan dengan orang lain. Tapi beda halnya dengan perbandingan yang positif. Perbandingan positif dapat mendongkrak semangat buah hati. Contoh perbandingan positif misalnya, “Kakakmu memang rajin sehingga bisa masuk UGM, ayah lihat kamu lebih rajin dari kakakmu, ayah yakin kamu pasti juga bisa!”.

  1. 5.    Beri teladan nyata
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah peribahasa yang meggambarkan anak itu tidak jauh dari orang tuanya. Karena orang tua adalah contoh nyata yang dilihat dan ditiru oleh sang anak. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya keteladanan dalam mendidik anak. Bahkan keteladanan itu lebih ampuh daripada seribu kata-kata. Sehingga, ingin seperti apa anak kita kelak, maka lakukan itu sekarang.

Demikian 5 hal yang diharapkan mampu mengubah emosi anak menjadi prestasi jika kita bisa melakukannya dengan baik dan sabar dalam membersamai buah hati. Semoga bermanfaat.

Artikel terkait:

Sub: hypnocreativa4
Referensi: Hypnocreativa, Teknik Mengelola dan Mengatasi Emosi Buah Hati menjadi Prestasi.

Share:

Wednesday, 19 June 2019

Masa Emas dan Alam Bawah Sadar Anak


Seperti halnya kita, anak kita juga memiliki pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran manusia ibarat gunung es, yang nampak di permukaan adalah pikiran sadar sedangkan yang tidak nampak adalah pikiran bawah sadar. Dari sini kita tahu betapa besar potensi yang dimiliki oleh pikiran bawah sadar. Kemampuan otak manusia tidak hanya terbatas pada kemampuan analitik, masih banyak kemampuan lain yang tersimpan.


Sebelum kita membahas masa emas dan pertumbuhan alam bawah sadar pada anak, ada baiknya kita singgung sedikit pembahasan tentang otak manusia. Otak manusia terdiri dari dua bagian, otak kanan dan otak kiri. Otak kiri memproses penalaran logis seperti perhitungan dan bahasa. Sedangkan otak kanan memproses keterampilan, seni dan musik.

Selanjutnya, otak memiliki pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar berfungsi untuk mengenali informasi yang masuk melalui panca indra, membandingkan dengan memori, menganalisa, kemudian memutuskan respon terhadap informasi yang diterima. Sedangkan pikiran bawah sadar berfungsi memproses kebiasaan, perasaan, memori permanen, kepribadian, intuisi, kreativitas dan keyakinan. Antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar dihubungkan oleh suatu celah yang disebut critical factor, yang berfungsi untuk menyaring informasi yang akan masuk dari pikiran sadar menuju pikiran bawah sadar.

Masa emas anak jika ditinjau dari perkembangan pikiran bawah sadar ini dibedakan menjadi tiga tahapan yaitu: tahap pertama saat usia 0-3 tahun, tahap kedua pada usia 3-7 tahun, tahap ketiga pada usia 7-13 tahun. Pada tahap pertama, bayi yang baru lahir pikiran sadarnya belum terbentuk dan pikiran bawah sadar yang mendominasi. Sehingga apapun yang kita berikan atau kita komunikasikan pada bayi akan langsung masuk alam bawah sadarnya. Banyak orang tua yang tidak paham periode ini sehingga sering kali hanya mengajarkan anak bernyanyi nina bobok sebagai pengantar tidur. Masa ini sangat baik untuk memberikan informasi positif misalnya cita-cita Anda, doa anda, harapan Anda, murottal qur’an dan lainya. Karena informasi pada tahap ini akan langsung masuk kea lam bawah sadar.

Tahap kedua. Pada tahap ini, pikiran sadar sudah terbentuk hanya saja critical factor belum ada sehingga informasi yang diterima anak tidak hanya masuk ke pikiran sadar tetapi juga akan diteruskan ke pikiran bawah sadar. Sehingga masa ini adalah periode terbaik untuk membentuk kepribadian anak. Kelebihan masa ini adalah anak sudah bisa diajak berkomunikasi sehingga lebih mudah menyampaikan informasi.

Pada tahapan ketiga critical factor mulai terbentuk dan akan sempurna ketika usia diatas 13 tahun. Dengan adanya critical factor sebagai penghubung antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar yang juga berfungsi sebagai filter informasi yang masuk, maka tidak semua informasi yang diterima pada pikiran sadar dapat diteruskan ke pikiran bawah sadar. Jika informasi yang masuk sesuai dengan nilai dan keyakinan (value & belief) yang dimiliki maka informasi akan masuk ke pikiran bawah sadar, jika tidak maka informasi ditolak dan tidak bisa masuk ke pikiran bawah sadar.

Demikian sedikit pembahasan tentang perkembangan masa emas anak dan hubungannya dengan perkembangan pikiran bawah sadar. Semoga setelah mengetahuinya kita bisa memanfaatkan masa emas anak dengan sebaik-baiknya untuk menanamkan karakter posistif pada anak kita.

Sub: hypnocreativa3
Referensi: Hypnocreativa, Teknik Mengelola dan Mengatasi Emosi Buah Hati menjadi Prestasi.

Share:

Monday, 17 June 2019

Pendidikan Anak: Generasi Intan atau Generasi Instan

“Ketika Anda tidak memiliki waktu untuk buah hati Anda ketia ia belia dan membutuhkan Anda, maka tunggulah, diapaun tidak akan memiliki waktu untuk Anda ketika Anda tua di saat Anda membutuhkannya.” Kata – kata mutiara ini pasti akan mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan anak dan pentingnya meluangkan waktu kita sesibuk apapun dalam membersamai pendidikan anak. Hal ini senada dengan pepatah lain, “barang siapa menanam, maka dia akan memetik”.


Saya jadi teringat dengan sebuah film dari Singapura yang berjudul I’m not stupid (aku tidak bodoh). Dalam film tersebut digambarkan ada sebuah keluarga dengan dua anak dimana orang tua mereka, baik bapak maupun ibu sangat sibuk bekerja. Bapak – ibu mereka membiayai mereka untuk bersekolah di tempat yang bagus tetapi tidak memberikan waktu untuk mereka saking sibuknya. Bahkan suatu ketika salah seorang anaknya sempat menanyakan berapa penghasilan ayah sehari karena ia ingin membeli waktu ayahnya sehari untuk bisa datang di pertunjukan dramanya di sekolah. Kemudian ia menabung untuk mengumpulkan sejumlah uang itu. Karena sudah mendekati waktu pertunjukan dan belum terkumpul uangnya, ia akhirnya mencuri di kantin. Akan tetapi, ia tertangkap karena rekaman CCTV kantin. Kemudian orang tuanya dipanggil ke sekolah. Mendengar alasan kenapa ia sampai mencuri, orang tuanya menangis dan barulah mereka sadar.

Berdasarkan cerita tersebut maka dapat diambil pelajaran bahwa anak – anak memerlukan perhatian dari orang tuanya. Apalagi disaat mereka sedang mencari jati diri, mereka memerlukan bimbingan, arahan, dan nasihat orang tua agar tidak terjerumus ke pergaualan yang tidak baik.

Selanjutnya ketika kita sudah menyadari akan pentinya meluangkan waktu dalam mendidik anak, maka akan kita bentuk anak kita menjadi generasi intan ataukah generasi instan. Apa perbedaanya? Intan adalah salah satu jenis mineral karbon yang terdapat pada batuan beku. Batuan beku dibentuk oleh magma yang membeku kemudian terjadi proses metamorfisme dengan suhu dan tekanan yang tinggi sehingga berubah menjadi intan. Sedangkan instan adalah cara cepat, mudahnya seperti makanan instan yang bisa disajikan dengan cepat misalnya mie-instan dll. Dari sini kita bisa melihat proses yang berat yang dialami intan membuatnya semakin cantik dan berharga mahal. Sebaliknya, barang instan bisa kita peroleh dengan mudah namun harganya kecil jika dibanding intan.

Intan dan instan tadi adalah suatu analogi dalam pendidikan anak kita. Jika kita menghendaki anak kita berkualitas seperti intan atau menjadi generasi intan maka prosesnya pun berat seperti intan tadi. Tidak ada cara paling efektik untuk melahirkan generasi intan, kecuali keterlibatan orang tua sebagai pendidik yang sadar. Sehebat apapun pelatihan pasti akan usai dan sehebat apapun sekolah pasti akan lulus dan akhirnya diserahkan kembali ke orang tua.

Zaman sekarang ini, tanpa kita sadari, dengan kebiasaan kita yang serba instan, banyak orang tua yang menjadikan anaknya sebagai generasi instan pula. Meraka menuruti atau menyadiakan fasilitas yang lengkap pada anaknya dengan harapan anak bisa tumbuh dengan baik. Apalagi di zaman gadget ini, jika anak menangis maka gadged yang jadi andalan untuk menghibur anak. Saya pun awalnya juga demikian, tetapi saya mulai sadar akan dampak buruk gadged sehingga saya mulai membatasi pemberian gadget pada anak.

Terakhir, proses tidak akan mengecewakan hasil. Artinya usaha keras kita dalam mendidik anak pasti memberikan hasil yang maksimal dan bagitupula sebalinya. Semoga kita bisa menjadi orang tua terbaik untuk anak kita dan melahirkan generasi intan yang bisa membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Sub: hypnocreativa1

Referensi: Hypnocreativa, Teknik Mengelola dan Mengatasi Emosi Buah Hati menjadi Prestasi.

Share:

Sunday, 16 June 2019

Orang Tua dalam Prespektif Pendidikan Anak


Anak merupakan karunia besar yang diberikan Alloh kepada pasangan suami – istri. Setiap pasangan mengharapkan kehadiran anak. Akan tetapi, ternyata tidak semua pasangan tadi mempersiapkan bekal yang matang dalam pendidikan anak. Memiliki anak memerlukan kesiapan dari berbagai sisi, baik dari sisi materi, mental, maupun spiritual.


Anak yang baru lahir ibarat kertas putih tak bernoda, kemudian orang tuanya lah yang membentuknya dengan pendidikan yang diberikan. Menurut penelitian, 90 % permasalahan anak disebabkan oleh kesalahan dan ketidaktahuan orang tua akan cara komunikasi dan penyampaian nilai yang baik pada anak. Sebagaian besar orang tua menganggap anak sebagai objek yang harus nurut sehingga bisa diperintah dan menjalankan setiap perintah yang diberikan padanya. Mereka lupa bahwa anak juga merupakan individu dalam bentuk kecil yang memiliki pikiran, perasaan dan keinginan. Setiap anak memiliki cirri khas masing – masing. Seibu dan sebapak bukan berarti sama dalam sikap dan perilaku.

Sebagai orang tua, kita memiiki tiga pilihan sikap dalam pendidikan anak yaitu orang tua nyasar, orang tua bayar, dan orang tua sadar. Mari kita bahas lebih lanjut ketiganya agar kita bisa lebih jelas mengetahui posisi kita ada di golongan mana dan memutuskan untuk memilih golongan yang lebih baik untuk kita tempati dalam pendidikan anak buah hati kita.
Pertama, orang tua nyasar. Golongan pertama ini adalah orang tua yang memiliki anak tanpa ada persiapan, tidak memiliki ilmu, tidak mau belajar, dan menjadi orang tua menurutnya hanya menjadi beban. Orang tua model ini hanya menjalankan kehidupan sehari – hari dengan perulangan tanpa kemajuan. Akhirnya ia terperangkap dalam kejenuhan rutinitas tetapi tidak berani keluar dari perangkap itu. Antusiasnya merosot dan merasa setiap yang dilakukan anak adalah masalah. Orang tua jenis ini sering mengalami lonely syndrome yaitu merasa kesepian ditengah keramaian orang banyak.

Kedua, orang tua bayar. Orang tua pada posisi ini adalah yang hanya mengandalkan pihak ketiga dalam pendidikan anaknya. Biasanya dilakukan oleh meraka yang tersibukkan dengan kerja dan hanya mengandalkan sekolah dalam pendidikan anaknya. Prinsip dari orang tua bayar adalah uang bisa melakukan segalanya. Jika didapatinya nilai raport anak jelek atau sikap anak kurang baik maka dia akan protes, baginya pengeluaran besar harus sebanding dengan prestasi anak. Sebenarnya golongan ini hampir sama dengan golongan orang tua nyasar, hanya saja memiliki kelebihan perekonomian sehingga pendidikan anak dititipkan ke orang lain, dia hanya tahu bayar.

Ketiga, orang tua sadar. Orang tua yang benar-benar sadar bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab besarnya. Orang tua sadar selalu belajar terus – menerus. Baginya guru adalah partner, sekolah dan tempat kursus adalah mitra dalam pendidikan anaknya. Orang tua sadar paham bahwa mendidik tidak bisa mendadak, karena mendadak tidak bisa mendidik. Untuk itu, ia persiapkan dengan baik projek besarnya dalam pendidikan anak.

Sub: hypnocreativa1
Referensi: Hypnocreativa, Teknik Mengelola dan Mengatasi Emosi Buah Hati menjadi Prestasi.

Share:

Sunday, 16 December 2018

Ayah Milineal di Era Digital


Era digital atau dikenal dengan Revolusi Industri 4.0 ini memberikan tantangan baru dalam hal pendidikan anak. Bagaimana tidak, sekarang informasi serba bersliweran dan bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Tentu saja, pada zaman yang serba digital ini pendidikan anak memiliki treatment yang berbeda dengan zaman dulu. Jika dulu setelah pulang sekolah, anak bermain dengan teman – teman dan setelah sore ada yang ikut kursus ataupun mengaji di masjid, zaman sekarang kapan pun dimanapun anak pegang HP. Seolah HP adalah segalanya, karena memang zaman sekarang hampir semua bisa di dapat dari HP. Kita sebagai orang tua, tidak boleh menyalahkan zaman karena memang inilah kenyataan, yang ada adalah orang tua sebisa mungkin memanfaatkan teknologi yang ada untuk pendidikan anak.



Semakin mudahnya informasi didapat dan semakin baiknya gizi anak sekarang, sehingga sering kita dapati kids zaman now baligh dulu dan akil terlambat. Kenapa bisa baligh dahulu dan akil kemudian? Baligh kaitanya dengan kedewasaan fisik, sedangkan akil kaitannya dengan kedewassan akal. Jika anak perempuan dulu menstruasi sekitar usia SMP, sekarang SD pun sudah, demikian pula untuk anak laki – laki. Contoh yang lebih parah, anak SD zaman now sudah menghamili dan yang perempuan hamil. Padahal mereka belum tahu tanggung jawab mendidik anak karena meraka juga secara akil masih anak – anak.

Hubungannya dengan pendidikan anak, siapakah sebenarnya yang bertanggung jawab dalam pendidikan anak? Semua pasti menjawab, orang tua. Orang tua sendiri terdiri dari Ayah dan Bunda. Akan tetapi kenyataan sekarang sangat memprihatinkan dimana ayah dan bunda sibuk bekerja anak masuk penitipan atau PAUD atau sekolah fullday. Lalu apabila terjadi kenakalan anak, orangtua saling menyalahkan. Ada pula istri yang pengertian, mau menerima untuk resign kerja demi menemani anak, menuju fitrah sebagai ibu. Ternyata masih saja terjadi kecolongan walaupun ibu sudah menunggu di rumah. Kemudian suami menyalahkan istri atas kenakalan atau kekurangan yang ada pada anak. Suami merasa sudah sibuk bekerja sehingga apapun terkait anak itu tanggung jawab istri. Si istri merasa sudah melakukan yang terbaik, dari bangun tidur sampai tidur lagi rasanya sudah stand by menjaga anak. Akhirnya terjadi percekcokan suami - istri. Terkadang kita lupa, anak dibuat oleh ayah dan bunda, sehingga mendidik juga merupakan tanggung jawab bersama.

Mendidik anak merupakan tanggung jawab berdua, ayah dan bunda. Kenapa harus ayah dan bunda? Kerena pada dasarnya ayah dan bunda memiliki fitrah yang berbeda. Ayah sebagai seorang yang cenderung pendiam, tetapi memiliki karakter yang kuat. Sebaliknya bunda, dimana fitrahnya lebih banyak berbicara, memiliki sifat kelembutan dan kasih sayang. Keduanya penting, jika berat sebelah maka tidak akan seimbang. Misalnya seorang anak yang kurang pendidikan dari ayah, maka ia cenderung tidak percaya diri. Sedangkan anak yang kurang pendidikan bunda, maka ia cenderung keras. Keseimbangan pendidikan ayah dan bunda menjadi faktor kuat masa akil baligh anak berjalan seirama.

Sebagai kepala keluarga dan juga pendidik karakter utama anak, seorang ayah memiliki tanggung jawab untuk menentukan visi dan misi keluarga dan tentunya visi dan misi pendidikan anak. Jika diibaratkan sebuah sekolah, ayah adalah kepada sekolahnya sedangkan bunda adalah gurunya. Kepala sekolah sebagai penanggung jawab sebuah sekolah dan guru sebagai pelaksana harian.

Kemudian di era digital ini bagaimana cara pendidikan anak agar terbentengi dari virus digital internet dan tetap dapat bersaing di zaman disruptif ini? Kunci utamanya yaitu dengan memanamkan karakter pada anak sehingga ia tidak mudah terpengaruh informasi – informasi yang bersliweran dan juga terjaga dalam pergaulanya. Jadi, tidak melarang anak untuk belajar dari internet maupun bermedia sosial tetapi kita tanamkan dasar pada anak untuk memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Karena pada dasarnya anak itu, semakin dilarang justru semakin penasaran. Hal ini sesuai pesan Sahabat Ali bin Abi Tholib:

“Didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu!”

Lantas bagaimana caranya penanaman karakter ini dilakukan? Salah satu caranya, sesuai yang dituntunkan Rosul dalam hadistnya yaitu

“Ajarilah anak – anak kalian berkuda, berenang, dan memanah”

Apa hubungan berkuda, berenang, dan memanah di era digital ini? Pertama, semua sunah Rosul pasti ada hikmahnya, sebagai orang mukmin wajib melaksanakan. Kedua, jika kita tilik lebih dalam tentang berkuda berenang dan memanah, ternyata mengandung hikmah sebagai berikut:

  1.      Berkuda diartikan sebagai Skill of Life, yaitu dengan memberikan keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup sehingga memiliki rasa percaya diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
  2.        Berenang diartikan sebagai Survival of Life, mendidik anak agar selalu semangat dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah.
  3.      Memanah diartikan sebagai Thinking of Life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan target hidup.




Semoga dengan menggunakan rumus SST (Skill, Survival, dan Thinking) yang bersumber dari hadist Rosul ini, kita bisa menanamkan karakter positif yang kuat pada anak sehingga pada kondisi bagaimanapun anak terjaga dan bisa menjaga dirinya sendiri. Penanaman karakter adalah tanggung jawab utama ayah, tetapi pendidikan anak adalah tanggung jawab ayah dan juga bunda.

Referensi:
https://www.kompasiana.com/elokkhusna/584a2e7e8d7a61d308d3824e/mendidik-anak-ala-ali-bin-abi-thalib-ra?page=1

Share:

Wednesday, 12 September 2018

A Home Team



Bulan Agustus kemarin, saya dan istri tertarik untuk mengikuti workshop tentang A home team di salah satu hotel di Kota Solo. Apa itu A home team? Dari kata – katanya jika kita artikan adalah sebuah tim keluarga. Secara leih dalam adalah bagaimana membentuk keluarga yang solit. Seminar tersebut diisi oleh pembicara yang tentunya sudah tidak asing bagi ibu – ibu karena beliau adalah Founder IIP (Institut Ibu Profesional) yaitu Ibu Septi Wulandari dan Sang suami Pak Dodik. Berikut rangkuman dari ilmu yang berhasil saya pahami di workshop tersebut.




Apakah persamaan dan perbedaan dua gambar diatas? Persamaannya antara lain: kumpulan banyak orang, saling berinteraksi, di tempat yang sama, dll. Sedangkan perbedaanya antara lain:

Pasar
Klub Bola
Interaksi bersifat individual
Interaksi bersifat kelompok
Setiap individu memiliki tujuan masing - masing
Individu – individu dalam klub bola memiliki tujuan yang sama
Tidak ada aturan khusus
Ada aturan yang jelas

Berdasarkan tabel perbedaan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pasar adalah sebuah kerumunan karena walaupun terdapat banyak orang pada satu tempat yang sama, mereka memiliki tujuan masing – masing. Sedangkan klub bola adalah sebuah tim, dimana setiap kelompok saling terikat dan memiliki tujuan yang sama. Dari sini mari kita instropeksi diri kita masing – masing, apakah pada keluarga kita sudah terbentuk sebuah tim yang solit atau hanya sebuah kerumunan individu yang memiliki tujuan masing – masing?

Ciri sudah terbentuk tim pada sebuah keluarga adalah sudah tidak adanya aku dan kamu, misalnya milikku, milikmu. Dalam sebuah tim yang ada adalah milik bersama, sehingga jika masih ada aku dan kamu maka sebuah tim tidak akan solit.

Untuk membangun keluarga kita menjadi sebuah tim keluarga yang bekualitas ‘A’ ( sehingga disebut A home team) maka langkah pertama adalah menyatukan tujuan suami dan istri. Karena suami dan istri pasti memiliki latar belakang yang berbeda maka pasti FOR dan FOE nya pun juga berbeda. FOR atau Frame of Reference adalah lingkungan terutama keluarga yang mempengaruhi pola pikir seseorang, sedangkan FOE atau Frame of Experience adalah pengalaman hidup. Dengan FOR dan FOE yang berbeda pasti seseorang akan memiliki kepribadian yang berbeda pula. Jadi, jangan memaksakan pasangan kita untuk harus bersifat seperti kita.

Lantas dengan kepribadian yang berbeda ini, bagaimana cara menyatukannya untuk menjadi tim yang solit? Salah satu cara mudahnya adalah dengan mencari persamaan dan perbedaan masing – masing suami dan istri. Tulis semua kesukaan suami, tulis semua kesukaan istri. Kemudian masukkan dalam sebuah diagram venn yang memiliki sebuah irisan. Irisan tersebut adalah sesuatu yang disukai bersama. Pilah semua. Semakin banyak persamaan berkorelasi dengan semakin erat dan solit tim keluarga Anda. Jika sudah ada anak, gambar lingkaran baru pada diagram venn, dimana antara lingkaran ayah (A), ibu (B), dan anak(C) saling beririsan. Jika masih banyak perbedaan, maka samakan dengan kunci “bareng” atau bersamaan, yaitu: Main bareng, Makan bareng, dan Aktivitas bareng. Dengan serba bareng atau bersamaan, maka antar individu anggota tim akan semakin memahami satu sama lain sehingga tim keluarga Anda akan semakin kompak dan solit.


Langkah selanjutnya adalah, tujuan apa yang hendak dicapai oleh tim keluarga Anda? Rumuskan tujuan bersama yang hendak dicapai, atau “core value” keluarga Anda. Core value ini bisa disusun dengan menyatukan FOR, FOE, termasuk norma dan adat dalam keluarga masing – masing. Pak Dodik mencontohkan, core values keluarga mereka adalah “ iman dan kehormatan”, sehingga semua aktifitas yang dilakukan oleh setiap anggota keluarganya harus mengarah dan tidak boleh bertentangan dengan iman dan kehormatan. Jadi core value adalah nilai dasar keluarga yang dipegang oleh masing – masing anggota keluarga. Apakah core value keluarga Anda?

Setelah kompak, kemudian ada aturan dasar yang disepakati berupa core values, sekarang saatnya untuk berbagi peran. Belajar dari tim sepakbola, setiap individu di dalamnya memiliki peran masing – masing sesuai dengan keahliannya, misalnya ada kipper, ada pemain bertahan, ada gelandang, ada penyerang. Apa jadinya jika seorang penyerang diminta menempati posisi kipper? Demikian pula dalam pembagian peran dalam A home team, tempatkan seseorang sesuai bakatnya atau fitrahnya. Misal ayah bekerja dan menyapu halaman, ibu memasak dan mencuci baju, anak laki – laki mengepel teras, anak perempuan mencuci piring, dan masih banyak lagi yang kesemuannya disesuaikan dengan kondisi home team masing – masing.

Semoga yang sedikit ini bisa menginspirasi keluarga kami pada khususnya dan keluarga pembaca sekalian pada umumnya. Terima kasih sudah berkunjung di blog Griya Cendekia.

Share:

Tuesday, 24 July 2018

Apa dan Kenapa Kurikulum Penting?


Kurikulum, sesuatu yang sudah tidak asing lagi dalam dunia pendidikan. Saya yakin kalian semua pernah mendengarnya, tapi apakah kalian tahu apa itu kurikulum? Apakah kalian pernah menanyakan kurikulum suatu sekolah sebelum masuk ke sekolah tersebut? Pada kesempatan ini GC (Griya Cendekia) ingin berbagi dan berdiskusi dengan kalian semua tentang apa dan kenapa kurikulum penting.

Kurikulum adalah rancangan pembelajaran atau dapat disebut sebagai langkah – langah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Jadi dalam kurikulum suatu sekolah biasanya terdapat tujuan pembelajaran sekolah tersebut beserta langkah – langkahnya. Kenapa kurikulum penting? Karena kurikulum menunjukkan arah dan tujuan serta cara mencapainya. Misalnya kurikulum sekolah, dari sini kita bisa memperoleh informasi tentang rencana pengajaran dan tujuan sekolah tersebut sehingga dalam memilih sebuah sekolah dapat kita sesuaikan dengan tujuan kita.


Kurikulum sekolah pada tingkat dasar sampai menengah di Indonesia dirancang oleh pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan(Kemendikbud). Karena dirangcang oleh satu instutusi yang sama, maka kurikulum di sekolah dasar dan menengah di seluruh Indonesia adalah sama. Lantas kenapa ada sekolah favorit dan sekolah tertinggal? Kurikulum yang disusun Kemendikbud merupakan standart minimal sekolah sehingga untuk sekolah yang memiliki kemampuan lebih akan menambahkan atau menaikkan standar itu sesuai visi dan misi masing – masing sekolah. Dari sini maka muncullah sekolah favorit. Sebaliknya, sekolah – sekolah yang ada di pedalaman karana kurangnya sarana dan prasarana terkadang standart minimal pun tidak tercapai. Untuk itu, pemerintah dalam hal ini Kemendikbud berusaha memberikan bantuan pada sekolah yang tertinggal sehingga mereka bisa memenuhi standar minimal pendidikan. Contoh kurikulum dari Kemendikbud untuk sekolah dasar dan menengah adalah KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), dan K-13 (Kurikulum 2013).

Karena kurikulum pendidikan dasar dan menengah memiliki standar yang sama maka rata – rata dalam memilih sekolah dasar dan menengah orang – orang hanya melihat kepopuleran atau prestasi dari sekolah tersebut. Berbeda halnya pada perguruan tinggi dimana pembelajaran sudah dibagi berdasarkan jurusan dan setiap jurusan berhak mengembangkan kurikulum masing – masing. Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebagai institusi yang menaungi pendidikan tinggi di Indonesia sebenarnya sudah memberikan standart minimal, tetapi pengembangannya diserahkan pada masing – masing jurusan. Dari sini kita bisa melihat ada kampus yang memiliki akreditasi nasional BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) tetapi ada juga yang memiliki akreditasi internasional ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology) misalnya. Tentu saja kurikulum jurusan ter- akreditasi internasional akan berbeda dengan yang ter-akreditasi lokal meskipun pada jurusan yang sama.

Terlepas dari akreditasi, yang lebih penting disini adalah output lulusan yang ada di kurikulum setiap jurusan. Jadi sebelum masuk ke sebuah jurusan di suatu kampus, coba perhatikan output lulusan apa yang dijanjikan pada kurikulumnya, sehingga kalian bisa tau kira – kira setelah lulus akan bekerja sebagai apa. Meskipun secara garis besar, tetap saja seperti analogi sekolah dasar dan menengah tadi, ada kampus favorit dan ada yang biasa. Akan tetapi, setidaknya kalian sekarang tau apa itu kurikulum dan fungsinya sehingga dapat menentukan sekolah terbaik yang akan kalian atau anak kalian masuki nantinya. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terima kasih.

Ref:
https://squlio.com/sejarah-kurikulum-pendidikan-indonesia/
Share:

Tuesday, 5 June 2018

Imanan wa Ihtisaban (Part 8) – Misi Keluarga


Keimanan juga harus masuk ke dalam jantung pernikahan dalam wujud narasi narasi besar peradaban dari para suami sejati dan ayah sejati yang di dukung oleh para istrinya dan anak anaknya dalam sebuah misi perjuangan besar yang disepakati oleh mereka. Keimanan yang tak berwujud begitu, maka pernikahan hanya kumpulan suami beragama dan istri beragama serta anak anak beragama yang hidup menjalankan rutinitas dunia dan rutinitas ritualitas tanpa makna.

Berapa banyak suami yang mengaku beragama, namun membawa masuk kemungkaran ke dalam rumah tangganya yang menjadi energi negatif bagi anak dan istrinya. Berapa banyak suami yang paham agama namun bersikap kasar pada anak dan istrinya. Berapa banyak suami yang mengaku beragama namun tak tahu mau dibawa kemana keluarganya dalam peran atau misi keluarga di dunia.

 (sumber: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2018/01/28/55750/melabuhkan-biduk-keluarga-muslim/#sthash.oibSDXmj.dpbs)

Keluarga tanpa misi keluarga dan proyek proyek perjuangan mewujudkan misi itu yang berangkat dari gairah keimanan yang kokoh, hanya akan menjadi keluarga yang rapuh dan rentan. Steven Covey menyebutkan bahwa keluarga tanpa misi (family mission statement), ibarat kapal terbang tanpa destini, tidak tahu kemana tujuan penerbangan, mereka hanya menunggu bahan bakar habis atau mudah terhempas oleh cuaca dan awan yang buruk. 

Pasangan suami istri yang meletakkan peran keluarganya dalam narasi besar peradaban sebagai bagian utama keimanannya, akan sibuk dengan hal hal besar dan perjuangan yang besar dalam pernikahannya. Walhasil cinta merekapun semakin besar.

Pasangan suami istri yang gagal meletakkan peran keluarganya dalam peradaban, akan tak punya perjuangan besar yang dilakukan dengan seru sehingga akan semakin menghambarkan cinta mereka. Mereka akan disibukkan oleh hal hal kecil dan remeh temeh yang memicu kebencian dan pertengkaran. Dalam keluarga keluarga yang hampa dari misi perjuangan, tips tips komunikasi efektif suami istri, kiat kiat mengharmonikan hubungan dsbnya hanya akan semakin melelahkan, karena keluarga seperti itu tak punya akar keimanan yang berwujud dalam perjuangan bersama. 

Sejarah membuktikan cinta suami pada istri yang mendukung penuh misi suaminya, adalah cinta abadi tak bertepi. Lihatlah cinta Habibie pada Ainun, cinta Ibrahim AS pada bunda Hajar, cinta Muhammad SAW pada bunda Khadijah RA dsbnya. Istri istri shalihah itu meleburkan seluruh potensi dan sumberdaya dirinya pada suaminya dan mereka mendapat apa yang layak didapatkan, keridhaan besar suaminya dan Robbnya.

Sejarah pun membuktikan bahwa istri istri yang mendukung penuh misi suaminya, akan melahirkan anak anak yang shalih yang mampu melanjutkan misi perjuangan ayahnya. Anak anak yang paham dan yakin akan misi besar perjuangan ayahnya atau keluarganya akan mudah diteladankan dan dishalihkan, mereka akan segera mandiri dan punya motif kuat dari dalam diri untuk beramal shalih dalam peran peradaban terbaik sebagai bagian misi besar perjuangan keluarganya itu.

Mari di bulan Ramadhan ini, kita wujudkan imanan dalam rancangan misi keluarga kita. Lalu setelah itu mari kita berpacu dan sibukkan pernikahan dan keluarga kita dengan cahaya keimanan yang berwujud dalam misi atau peran perjuangan besar yang menjadi jalan bagi keluarga kita untuk bersama di dunia dalam kebaikan yang penuh manfaat serta menjadi jalan bersama menuju syurgaNya.

Artikel ini terdiri dari 8 bagian, silakan klink link berikut untuk membaca part lainnya. Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7.

Salam Pendidikan Peradaban

Oleh Ust. Harry Santosa
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa
Share:

Imanan wa Ihtisaban (Part 7) – Misi Hidup


Seorang mantan perdana menteri berusia 92 tahun, tetiba kembali lagi memenangkan pemilu dan menjadi perdana menteri kembali. Khalayak terhenyak, terlepas dari obsesi politik, tetapi betapa orang yang dengan umur tidak muda lagi masih punya semangat menggebu gebu untuk kembali urun tangan dan urun fikiran membangun negerinya. Pada periode sebelumnya ia telah buktikan misi hidupnya untuk membangun negaranya itu, kini ia merasa perlu kembali menuntaskan misi hidupnya atau tugas spesifiknya di dunia.

Di Indonesia, kita mengenal pak BJ Habibie, kini berusia 80 tahun lebih, namun gelora semangatnya untuk membangun Indonesia tak pernah pupus. Misinya menghebatkan Indonesia, merajut kepulauan dengan membangun industri strategis kedirgantaraan semakin hebat. Di usianya kini, dimana orang orang seangkatannya sudah berhenti berproduksi, dimana para eyang yang sudah sugih duduk tenang menikmati hari tua bersama cucu dan buyut dengan aset berlimpah, namun pak Habibie justru makin produktif jauh lebih produktif daripada ketika sedang menjabat sebagai menristek maupun wapres dan presiden. 

Dia, pak Habibie, akan terus begitu sampai Allah memanggilnya. Menjelang kematian, bagi mereka yang punya misi hidup, adalah waktu waktu terindah untuk memacu karya produktif yang makin bermanfaat. Jelang kematian adalah jelang husnul khatimah, ia adalah pacuan untuk semakin hebat dan banyak mengumpulkan pahala amal. Ia tunaikan misinya sampai tuntas. Bahkan jika kelak wafat, dan dihidupakan kembali maka ia pasti akan mengulangi kembali misi hidupnya itu.

 (sumber: http://ponpesbaron.id/temukan-misi-hidup-anda/)

Spirit menunaikan misi hidup ini pulalah yang diteladankan dan ditularkan oleh Rosulullah SAW. Perjalanan isra mi'raj adalah hiburan sekaligus pengakuan dan penguatan keimanan di saat Beliau terpuruk kehilangan istri yang luar biasa setia mendukung misi kenabiannya dan juga kehilangan pamannya sang pelindung utamanya. 

Mi'raj adalah peristiwa luarbiasa, beliau mencapai sidratul muntaha, sebuah capaian derajat tertinggi yang belum pernah dicapai manusia siapapun. Berdialog dengan Allah, menerima perintah sholat, mengimami Nabi Nabi sholat, diperlihatkan keindahan syurga dan kedahsyatan neraka serta dipastikan masuk syurga.

Jika kita adalah Muhammad, maka tentu kita tak mau kembali ke dunia, bertemu kembali dengan kesumpekan dunia, kejahatan abu jahal dan abu lahab dstnya. Muhammad Iqbal, seorang sastrwan besar asal Pakistan, menuliskan, "...tetapi Muhammad, Nabi orang Arab itu tetap kembali lagi ke dunia". 

Mengapa? Karena Nabi Muhammad ingin menuntaskan Misi atau Risalah Kenabian nya yaitu menyeru Tauhid, menyempurnakan akhlak manusia, menjadi rahmatan lil alamin, membawa berita gembira dan peringatan. Sejarah mencatat bagaimana Beliau kemudian menuntaskan Misi nya dengan gemilang sampai Allah wafatkan pada usia 63 tahun.

Begitulah orang-orang yang punya misi hidup yang ajeg, orang orang yang telah menemukan jalan hidupnya di dunia namun dipersembahkan kepada Sang Maha Rahman di langit., itulah Misi, itulah jalan, itulah Shirotol Mustaqiem. Jalan orang orang yang diberi nikmat di atas segala nikmat.

Misi hidup adalah tugas sebagai wujud dan implementasi keimanan dan keyakinan dalam kehidupan nyata. Inilah Jalan kenikmatan bagi mereka yang menikmati tugas kenabian, menikmati mati syahid dalam menjalankan tugasnya, menikmati keshabaran dalam tugasnya, menikmati indahnya memberi dan berbagi dalam tugasnya dstnya.

Maka di bulan Ramadhan, mari kita latih seluruh gerak dan orientasi amal kita sebagai implementasi Imanan, yaitu keyakinan bahwa semua aktifitas kita di dunia harus dalam kerangka menjalankan misi hidup atau tugas spesifik kita di dunia. Misi Ramadhan kita adalah melakukan amal ibadah terbaik yang langsung Allah yang membalasnya, dengan integritas (ihsan)dan kesadaran penuh (tau'iyah). Visi Ramadhan adalah "mudah mudahan menjadi orang bertaqwa".

Bagi yang belum punya Misi Hidup, mari kita temukan Misi Hidup kita di dunia di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Semoga ibadah kita yang banyak atau renungan yang banyak di malam malam Ramadhan membimbing kita menemukan kembali titik kesadaran untuk apa kita hidup di dunia. Jika misi hidup ditemukan atau titik kesadaran kesejatian diri kita diperoleh, maka itulah malam yang lebih baik daripada seribu bulan, atau setara 82 tahun, rata rata umur terpanjang manusia akhir zaman. Itu bermakna bahwa mereka yang menjalankan misinya seolah pahalanya abadi walau sudah meninggalkan dunia. Mintalah kepada Allah jalan atau misi hidup kita, karena Allahlah yang paling tahu jalan terbaik bagi kita masing masing.

"Katakanlah Yaa Muhammad, bahwa setiap kalian beramal menurut pembawaannya masing masing, maka Robbmulah yang paling tahu siapa yang lebih benar jalannya".

Jangan sia siakan keberkahan bulan ini, jika masih sendiri maka gali dan rancanglah misi personal, jika sudah berumah tangga, gali dan rancanglah misi keluarga bersama pasangan. Semoga, setelah Ramadhan kita punya misi hidup yang ajeg dan clear, "saya hadir di muka bumi untuk melakukan .... kepada ...." sebagai titik kesadaran, lalu kita tinggal memacunya dan mewujudkannya sejak Syawal dan mengevaluasinya pada Ramadhan tahun depan, begitu seterusnya, semakin lama makin produktif, dan menjadi pacuan amal menjelang Allah wafatkan. InsyaAllah.

Artikel ini terdiri dari 8 bagian, silakan klink link berikut untuk membaca part lainnya. Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 8.

Salam Pendidikan Peradaban

Oleh Ust. Harry Santosa
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa
Share:

Imanan wa Ihtisaban (Part 6) – Indikator Keimanan dalam Kehidupan


Istilah istilah dalam khazanah Islam seringkali mengalami peyoratif atau penyempitan makna. Contohnya makna Niat, begitu mendengar kata Niat, maka benak kita lantas merujuk kepada niat sebagai lafazh untuk memulai ibadah ritual, "nawaitu shoma ghodin...", "usholi fardhu zuhri..." dstnya.

Di Barat, istilah niat itu diartikan sebagai intrinsic motivation, motivasi dari dalam diri manusia yang dapat memicu amal lebih spontan, ikhlash, kreatif serta permanen. Motivasi dari luar (extrinsic motivation) seperti reward and punishment, over stimulus, over conditioning, bahkan pembiasaan dan drilling dianggap menyebabkan orang beramal robotik namun juga tidak permanen.

Pantas saja jika hari ini ummat Islam tak memiliki etos hebat yang berangkat dari dalam jiwanya, bisa jadi karena diawali sempit memaknakan niat, padahal niat itu suatu mindset strategis yang dahsyat yang menggerakkan manusia untuk beramal secara tulus, kreatif dan produktif dalam setiap aspek kehidupannya. Maka kini kita bisa paham mengapa semua kitab klasik Islam selalu diawali dengan bab niat. Itu karena hebatnya makna Niat dan implemehtasinya dalam peradaban Islam di masa lalu. 

Itulah pentingnya makna dari suatu istilah, apalagi istilah yang penting, karena akan menentukan cara orang berfikir, cara merasa dan cara bertindak. Makna dengan narasi yang ringan menyebabkan gagasan, imaji dan aksi yang ringan, sementara makna dengan narasi yang mendalam dan besar akan memicu gagasan, imajinasi dan solusi yang besar pula.



Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebut bahwa makna Imanan adalah sesuatu yang diikrarkan dengan lisan, dibenarkan oleh hati dan dikerjakan atau dibuktikan dengan amal perbuatan. Jadi iman itu seyogyanya, sesuatu yang mewarnai, menginspirasi, menggerakkan setiap langkah kehidupan manusia dalam semua bidang kehidupan, baik pendidikan, bisnis, pernikahan dstnya. 

Umumnya kita gagal membawa Keimanan atau Keyakinan ini dalam setiap aspek kehidupan kita, sehingga wujudnya hanya penempelan konten agama dan simbol simbolnya, namun platformnya tetap materialisme, liberaisme dstnya. Itu karena kita hanya memahami keimanan sebagai makna yang sempit yaitu sekedar beragama bukan berkeimanan atau beraqidah.

Keimanan itu harus masuk ke dalam jantung kehidupan, sebagai suatu cara berfikir, cara merasa dan cara bertindak, jika tidak maka keimanan hanya menjadi penempelan simbol simbol agama dalam kehidupan, celakanya hanya materialisme berselimut agama.
Indikator Keimanan masuk dalam Kehidupan

1. Keimanan itu harus muncul sebagai keyakinan bahwa kita hidup di dunia dalam rangka mencapai maksud penciptaan (the purpose of life), yaitu beribadah kepada Allah dan menjadi Khalifah Allah di muka bumi. 

Contoh, andaikan kita bekerja atau berbisnis, lalu mengatakan bekerja dan berbisnis adalah untuk beribadah tetapi yang ditunggu tunggu atau yang diorientasikan adalah gajian dan keuntungan, bukan menebar sebesar besar rahmat dan manfaat, maka kita sesungguhnya sedang mengalami disorientasi keimanan dalam mencapai the purpose of life. 

Begitupula dalam pernikahan dan mendidik anak, jika kita mengatakan menikah dan mendidik anak adalah dalam rangka beribadah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi, namun yang ditunggu tunggu adalah harta dan aset yang dikumpulkan serta anak anak yang diorientasikan agar kaya, segera bekerja dan sekedar menguasai banyak ilmu agama dan ilmu umum tanpa makna, maka lagi lagi kita sedang mengalami disorientasi keimanan.
Jika kesibukan kesibukan kita adalah rutinitas dan kecanduan perbuatan tanpa tujuan besar hidup di dunia yaitu untuk beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi maka sesungguhnya kita mengalami disorientasi keimanan.

2. Keimanan itu harus berwujud menjadi the mission of life atau Misi Hidup, jika tidak maka kita mengalami kegagalan membawa keimanan dalam kehidupan nyata. Misi hidup adalah apa saja dari aktifitas inti yang kita lakukan dalam kehidupan dengan penuh semangat, ikhlash yang spontan, antusias, produktif serta penuh manfaat sesuai dengan panggilan hidup atau fitrah kita.

Tanpa kejelasan Misi Hidup atau Peran Peradaban maka kita sulit mengatakan bahwa kita adalah hamba Allah dan khalifah Allah. Tanpa misi hidup yang dituntaskan sampai akhir hayat, maka sesungguhnya kita tak pernah mencapai maksud Allah menghadirkan kita di dunia.

Dalam Ramadhan, kita dididik untuk menyelaraskan (aligned) keimanan kita dengan aktifitas Ramadhan, khususnya shaum, agar tidak misorientasi, bahkan Allah SwT mengatakan bahwa puasa itu untukKu, Aku yang langsung memheri pahala puasa pada hambaKu. Jadi shoum atau puasa melatih kita untuk senantiasa berorientasi ke langit dalam tiap aspek kehidupan. 

Artikel ini terdiri dari 8 bagian, silakan klink link berikut untuk membaca part lainnya. Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 7, Part 8.

Salam Pendidikan Peradaban
Oleh Ust. Harry Santosa
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa
Share:

Translate

Tentang Penulis

Tentang Penulis
Powered by Blogger.

Flag Counter

Flag Counter